Metode Transfer Pricing

Terdapat dua klasifikasi metode transfer pricing :

  • Traditional profit methode yaitu metode Comparable Uncontrolled Price (CUP), resale price method (RPM), dan cost plus methode (CPM).
  • Transactional profit methode yaitu transactional net margin methode (TNMM) dan transactional profit split method (PSM).

 

1.Metode Perbandingan Harga antara Pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa  (Comparable Uncontrolled Price/CUP)

membandingkan harga dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak afiliasi dengan harga barang atau jasa dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak independen dalam kondisi atau keadaan yang sebanding. Yang diperbandingkan dalam CUP adalah HARGA.

Harga Wajar = Harga pihak independen sebanding

Syarat CUP:

  • Tidak terdapat perbedaan di antara transaksi yang dibandingkan
  • Apabila terdapat perbedaan maka secara akurat dapat dilakukan adjustment untuk mengeliminasi perbedaan tersebut

Pembanding metode CUP ini dapat menggunakan pembanding internal maupun pembanding eksternal. Sebagai contoh sederhana pembanding internal, PT A menjual produk X ke PT B (Pihak afiliasi) sebesar Rp. 1.000/unit dan juga ke PT C (pihak independen) sebesar Rp. 1.600/unit. Karakteristik produk yang dijual dan ketentuan kontrak kepada PT B dan PT C sama, selain itu fungsi aset dan risiko, strategi bisnis dan situasi ekonomi saat penjualan PT A kepada PT B dan PT C memiliki kesebandingan yang tinggi. Dalam kasus ini, metode CUP dapat diaplikasikan sehingga harga wajar PT A kepada PT B (pihak afiliasi) seharusnya Rp. 1.600/unit. Namun perlu dipertimbangkan juga apakah perbedaan volume penjualan akan memengaruhi tingkat harga jualnya atau tingkat diskon di pasar pihak independen.

 

2.Metode Harga Penjualan Kembali (Resale Price Method/RPM)

menilai kompensasi wajar yang diterima pihak afiliasi yang berfungsi sebagai distribusi atau pemasaran yang akan menjual kembali tanpa penambahan nilai yang substansial.

Resale Price Method dimulai dengan harga dimana produk yang telah dibeli dari perusahaan afiliasi dijual kembali kepada perusahaan independen. Harga ini (harga jual kembali) kemudian dikurangi dengan margin kotor yang sesuai pada harga ini. Metode ini yang diperbandingkan adalah LABA KOTOR.

Harga Wajar Pembelian Afiliasi (X) = Harga Jual Kembali (Y) – Laba kotor yang wajar untuk reseller

* “Laba kotor yang wajar untuk reseller” didapatkan dengan mencari pembanding baik pembanding internal maupun eksternal.

 

3.Metode Biaya Plus (Cost Plus Method/CPM)

Adalah metode penentuan harga transfer yang dilakukan dengan menambahkan tingkat laba kotor wajar (arm’s length mark up) yang diperoleh perusahaan independen yang sebanding. Dalam metode ini yang diperbandingkan adalah LABA KOTOR.

Harga Wajar Penjualan (X) = Biaya Produksi (cost base) + laba (mark up) wajar

4.Metode Pembagian Laba (Profit Split Method/PSM)

Adalah metode penentuan harga transfer dengan mengidentifikasi laba gabungan dari entitas-entitas afiliasi. Misalnya nih cui, induk perusahaan yang melakukan riset sedangkan anak perusahaan yang memproduksi dan menjual produk, jadi kan harus diketahui nilai kontribusi induk perusahaan dan anak perusahaan dalam menciptakan keuntungan secara keseluruhan dari grup perusahaan tersebut. Nah, kita bandingin dengan perusahaan independen yang melakukan transaksi yang sebanding, berapa persentase keuntungan yang diperoleh masing-masing pihak. Cara hitungnya ada dua, dengan menggunakan metode kontribusi (Contribution Profit Split Method) atau metode sisa pembagian laba (Residual Profit Split Method). Besok gw jelasin yang ini dh, agak panjang soalnya.

 

5.Metode Laba Bersih Transaksional  (Transactional Net Margin Method/TNMM)

Kalau gw bilang ini metode sapu jagat, paling banyak dipakai karena paling gampang dan paling sering dipakai. Langkah awal tentuin Level of indicator (LOI) yaitu rasio keuangan untuk menggambarkan tingkat laba operasi yang dihubungkan dengan suatu penyebut tertentu sesuai dengan sifat (fungsi, aset dan risiko) entitas yang diuji. LOI yang sering digunakan ini.

    • Rasio Tingkat Pengembalian Penjualan (Return on Sales/ROS)

Biasanya ROS digunakan untuk usaha penjualan yaitu distributor baik whole seller atau retailer. ROS (net margin) dihitung dengan formula sebagai berikut:

ROS = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂/𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒂𝒍𝒂𝒏 x 100%

    • Rasio Tingkat Pengembalian Total Biaya (Return on Total Cost/ROTC)

Biasanya digunakan untuk usaha pabrikan dan penyedia jasa. ROTC (Net Mark-up) dihitung dengan formula sebagai berikut:

ROTC = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂/(𝑯𝑷𝑷 + 𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝒐𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊) x 100%

    • Rasio Tingkat Pengembalian Aset (Return on Assets/ROA)

Biasanya digunakan untuk assets-intensive business. ROA dihitung dengan formula sebagai berikut:

ROA = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂/𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒕𝒊𝒏𝒈 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕𝒔 x 100%

ROA = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂/(𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕𝒔−𝑵𝒐𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒕𝒊𝒏𝒈 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕𝒔,i𝒏𝒄𝒍𝒖𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒄𝒂𝒔𝒉) x 100%

Total operating assets termasuk aset tetap operasi (termasuk tanah, bangunan, pabrik dan peralatan). Aset tidak berwujud yang digunakan dalam usaha (seperti paten atau know-how), dan working capital assets (seperti persediaan dan piutang dagang dikurangi utang dagang). Investasi dan kas tidak termasuk dalam operating assets kecuali perusahaan yang bergerak dalam industri keuangan.

 

NEXT

Trus yang buat TPDoc jadi barang mahal apa dong pak eko??

Yang buat mahal yaitu biaya mencari data pembandingnya. Lu mesti langganan aplikasi online seperti Orbis, Osiris atau Oriana dimana biaya langganannya setahun bias buat beli rumah tipe 48 di daerah cipinang. Disitu yang berat cui, makanya gw sampe sekarang ga mampu beli rumah dan bisanya ngontrak doing. Doain gw bisa beli rumah ya. Hehhehe..

 

Jenis usaha wajib pajak dari analisis

  1. Manufaktur
    1. Toll Manufacturer: dikenal sebagai penyedia jasa maklon. Ciri utama adalah bahan baku disediakan oleh pelanggan dan spesifikasi desain beserta jumlah produksi ditentukan oleh pelanggan, hanya memberikan jasa produksi saja. Umumnya skema Toll Manufacturer ini diklasifikasikan sebagai cost center.
    2. Contract Manufacturer: prinsip hampir sama dengan Toll Manufacturer, namun bahan baku disediakan sendiri, bukan disediakan oleh pelanggan, sehingga risiko atas persediaan yang tidak terjual ada pada entitas. Pada laporan keuangan entitas Contract Manufacturer terdapat akun persediaan bahan baku namun pada entitas Toll Manufacturer tidak ada.
    3. Licensed Manufacturer: entitas akan memproduksi suatu barang jadi berdasarkan lisensi yang diberikan oleh entitas yang memiliki lisensi tersebut. Bahan baku dimiliki oleh entitas Licensed Manufacturer. Hampir sama dengan entitas Contract Manufacturer, namun entitas Licensed Manufacturer akan memproduksi barang sesuai dengan estimasinya sendiri atas penyerapan di pasar sehingga entitas Licensed Manufacturer juga memiliki risiko atas barang yang tidak terjual. Licenced manufacturer juga diwajibkan membayar royalti kepada pemilik lisensi.
    4. Fully fledge manufacturer : hampir melakukan semua fungsi-fungsi manufaktur sampai dengan menjual produknya ke customer. Entitas ini juga memiliki risiko yang paling tinggi diantara jenis kelompok manufaktur sebelumnya serta memiliki aset yang lebih kompleks yang termasuk aset berwujud maupun aset tidak berwujud seperti know how atau trade marks dan trade names.
  2. Distributor
    1. Fully fledge distributor: entitas ini melakukan pembelian barang kepada pemasok dan menjualnya tanpa mengubah bentuk barang tersebut secara material. Sehingga entitas ini menanggung resiko atas persediaan yang tidak terjual.
    2. Limited risk distributor: persediaan dimiliki oleh pemasok/supplier, tugas entitas ini cukup menjual produk tersebut. Sehingga resiko atas persediaan yang tidak terjual ditanggung oleh pemasok/ supplier.
    3. Commisionaire : entitas ini berfungsi menjual barang kepada konsumen. Namun barang yang dijual langsung dikirim dari pemasok/supplier, sehingga entitas tersebut tidak memiliki gudang penyimpanan barang. Sedangkan tagihan /invoice diterbitkan oleh entitas commissionaire ini.
    4. Agency: entitas tersebut hanya berfungsi sebagai agen bagi pemasok yang biasanya induk perusahaan dalam memasarkan produk yang dimiliki oleh pemasok. Persediaan dan tagihan langsung diberikan oleh pemasok barang kepada konsumen. Agency ini berlaku sebagai perantara dari perusahaan induk dalam mencari konsumen di daerah/ Negaranya.
  3. Penyedia jasa/ service provider
    1. Shared Services Centre
    2. Contract Services Provider
    3. Sophisticated Services Provider
Descriptions Shared Services Centre Contract Services Provider Sophisticated Services Provider
Investment in asset used to render services Tend to be low Tend to be low Tend to be (very) high
Human Resources Depends on type of serices rendered Lower Compensated/less Sophisticated Higher Compensated/Less Sophisticated Staff
Valuable Intagibles
Routine Intagibles (√)
Invoicing and Collection
General and Administrative Functions

 

Cara menentukan Karateristik usaha wajib pajak

 1. Mengidentifikasi karateristik transaksi afiliasi wajib pajak

  • Melakukan analisis industry wajib pajak: untuk mendapat pemahaman gambaran mengenai industri wajib pajak. Contoh: bergerak dalam bidang semi konduktor yang memproduksi graphic card dan random access memory.
  • Membuat skema transaksi affiliasi
  • Melakukan analisis rantai suplai (supply chain analisis): fungsi riset dan pengembangan, pembelian, manufaktur, distribusi, pemasaran, logistik.

2. Melakukan analisis fungsi

Pengalokasian fungsi, asset dan risiko antara pihak-pihak yang terkait dalam transaksi afiliasi sehingga diketahui karateristik setiap pihak secara tepat.

Fungsi:

  • Pembelian bahan baku
  • Konsinyasi bahan baku
  • Riset/ penelitian dan pengembangan
  • Perencanaan produksi
  • Proses produksi/ pengolahan
  • Pergudangan dan logistik
  • Penetapan harga jual
  • Invoicing dan penagihan
  • Pemasaran, pengiklanan dan promosi
  • Quality control
  • Penjualan dan distribusi

Aset :

  • Asset tak berwujud
  • Asset berwujud

Risiko :

  • Risiko persediaan
  • Risiko riset dan pengembangan
  • Risiko kredit
  • Risiko pasar
  • Risiko fluktuasi kurs

 

trus hasil analisinya gmn boss…

Intro

Saya begitu kesel melihat fenomena disiplin ilmu tentang Transfer Pricing. Ilmu tersebut terkesan ilmu yang mahal dan bergengsi, hanya karena sedikitnya refrensi dalam bahasa Indonesia dan terkait dengan perusahaan Multi Nasional. Dan begitu mahalnya biaya untuk pembuatan Transfer Pricing Documentation.

Saya ingin memperkenalkan ilmu ini secara sederhana dan lebih mudah dimengerti. Semoga pembaca dapat lebih memahami dan saya juga semakin ahli.

Tanpa salam.